• Selamat Datang di Website DPRD Kota Yogyakarta
  • Event Calendar
    • Anggota DPRD Kota Yogyakarta Masa Jabatan 2014-2019

    • anggota DPRD masa jabatan 2014-2019

    • Anggota DPRD perempuan masa jabatan 2014-2019

    • Rapat Konsultansi Pimpinan DPRD dan Pimpinan Fraksi dengan TAPD

    ASPIRASI
    PENGADUAN
    JAJAK PENDAPAT
    Bagaimana Kinerja dan hasil DPRD Saat Ini?
    Bagus
    Biasa Saja
    Jelek

    HASIL POLLING
    STATISTIK PENGUNJUNG
    • Browser :
    • OS : Unknown Platform
    • Dikunjungi sebanyak : 429746 kali
    Share This Articel on :

    2012-12-13 22:23:51 WIB

    Membangun Yogyakarta Sebagai Kota Multikultural

     

    Oleh : Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Henry Kuncoroyekti, SH

     

    Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya Kota Yogyakarta telah lama dikenal sebagai miniatur Indonesia yang bersifat mulitikultural. Hal ini ditunjukkan dengan beragamnya kultur maupun subkultur yang dapat berkembang di Yogyakarta baik yang berbasis etnisitas, golongan, aliran kepercayaan maupun agama.

    Beragamnya kultur yang berkembang di Kota Yogyakarta, tidak lepas dari Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan dan Kota Budaya yang memberikan ruang pertemuan budaya bagi anak-anak bangsa dari berbagai penjuru nusantara yang datang untuk menimba ilmu dan di sisi lain, pola pikir dan sifat masyarakat Kota Yogyakarta yang relatif bersifat terbuka terhadap masuknya budaya lain, pandangan, maupun orang luar,  memberikan peluang untuk  tumbuh kembangnya kebudayaan dari etnis lain dan juga pandangan dari berbagai aliran, idelogi, politik, kepercayaan dan juga agama untuk saling berinteraksi dan membangun hubungan yang harmonis.

    Namun sayangnya, akhir-akhir ini hubungan yang harmonis antar kultur dan sub kultur tersebut terkoyak dengan muncul berbagai konflik sosial dalam bentuk kekerasan di Kota Yogyakarta, yang ditengarai berlatar belakang isu SARA.  Hal ini jelas mencederai bangunan sosial yang selama ini telah terbangun dengan baik dan harmonis, apalagi saat ini Kota Yogyakarta telah mendeklarsikan diri sebagai City of Tolerance atau kota yang penuh dengan toleransi.

    Munculnya aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan kelompok, agama atau etnis tertentu di Kota Yogyakarta sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari para pemangku kepentingan khususnya pihak eksekutif dan aparat penegak hukum, karena jika hal ini dibiarkan tanpa penanganan yang serius akan menjadi preseden buruk di kemudian hari dan dapat merusak kerukunan dan tatanan budaya masyarakat Yogyakarta yang anti terhadap kekerasan dan penuh dengan toleransi.

    Struktur masyarakat majemuk yang ada di Kota Yogyakarta adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dinafikan berpotensi menimbulkan konflik dan gesekan sosial sebagaimana menurut JS Furnival bahwa masyarakat majemuk (plural society) merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih tertib sosial, komunitas atau kelompok-kelompok yang secara kultural, ekonomi dan politik terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, atau dengan kata lain merupakan suatu masyarakat di mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggotanya kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan.

    Kondisi keniscayaan ini jika tidak dikelola dengan baik oleh para pemangku kepentingan jelas akan dapat menimbulkan konflik yang dapat berbentuk kekerasan serta akan berujung pada disintegrasi sosial yang tidak hanya merugikan masyarakat Kota Yogyakarta semata namun juga dapat menimbulkan dampak bagi keutuhan NKRI,

    Berangkat dari konteks tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para nya para pemangku kepentingan di Kota Yogyakarta. Pertama, para pemangku kepentingan terutama pihak eksekutif harus memiliki persepsi dan pemahaman yang sama bahwa bentuk struktur sosial masyarakat  majemuk yang ada di Yogyakarta harus diupayakan dan diarahkan menjadi struktur sosial yang terinterseksi (intersected social structure) yakni kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat dapat menjadi wadah beraktivitas dari orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang sukubangsa, agama, ras, dan aliran. Dengan demikian  keanggotaan para anggota masyarakat dalam kelompok sosial yang ada dapat saling silang-menyilang sehingga terjadi loyalitas yang juga silang-menyilang (cross-cutting affiliation dan cross-cutting loyalities). Bentuk struktur yang terinterseksi mendorong terjadinya integrasi sosial dalam masyarakat multikultural.

    Kedua, para pemangku kepentingan perlu secara aktif melakukan upaya dan proses integrasi sosial dengan pendekatan yang berbentuk konsensus yang lebih menekankan pada dimensi budaya , dengan pendekatan konsensus, integrasi sosial dapat dicapai melalui suatu kesepakatan tentang nilai dasar (common platform) diantara komunitas, etnis, agama, aliran yang hidup di Kota Yogyakarta. ;

    Dengan melakukan dua hal tersebut di atas, para pemangku kepentingan akan memiliki kepedulian dan responsivitas yang tinggi terhadap potensi-potensi konflik yang ada di dalam masyarakat multikultural dan tidak sekedar menjadi mediator konflik apalagi hanya sekedar menjadi “pemadam kebakaran”  yang bertindak reaktif pada saat api konlfik tengah membesar seperti yang terjadi dalam beberapa kasus aksi kekerasan terhadap sebuah ormas keagamaan, pembubaran diskusi dan aksi anarksisme di beberapa sekolah yang berbasis agama di Kota Yogyakarta.  

     

    ***********************

     

     

     

     

     Membangun Yogyakarta Sebagai Kota Multikultural

     

    Oleh : Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Henry Kuncoroyekti, SH

     

    Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya Kota Yogyakarta telah lama dikenal sebagai miniatur Indonesia yang bersifat mulitikultural. Hal ini ditunjukkan dengan beragamnya kultur maupun subkultur yang dapat berkembang di Yogyakarta baik yang berbasis etnisitas, golongan, aliran kepercayaan maupun agama.

    Beragamnya kultur yang berkembang di Kota Yogyakarta, tidak lepas dari Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan dan Kota Budaya yang memberikan ruang pertemuan budaya bagi anak-anak bangsa dari berbagai penjuru nusantara yang datang untuk menimba ilmu dan di sisi lain, pola pikir dan sifat masyarakat Kota Yogyakarta yang relatif bersifat terbuka terhadap masuknya budaya lain, pandangan, maupun orang luar,  memberikan peluang untuk  tumbuh kembangnya kebudayaan dari etnis lain dan juga pandangan dari berbagai aliran, idelogi, politik, kepercayaan dan juga agama untuk saling berinteraksi dan membangun hubungan yang harmonis.

    Namun sayangnya, akhir-akhir ini hubungan yang harmonis antar kultur dan sub kultur tersebut terkoyak dengan muncul berbagai konflik sosial dalam bentuk kekerasan di Kota Yogyakarta, yang ditengarai berlatar belakang isu SARA.  Hal ini jelas mencederai bangunan sosial yang selama ini telah terbangun dengan baik dan harmonis, apalagi saat ini Kota Yogyakarta telah mendeklarsikan diri sebagai City of Tolerance atau kota yang penuh dengan toleransi.

    Munculnya aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan kelompok, agama atau etnis tertentu di Kota Yogyakarta sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari para pemangku kepentingan khususnya pihak eksekutif dan aparat penegak hukum, karena jika hal ini dibiarkan tanpa penanganan yang serius akan menjadi preseden buruk di kemudian hari dan dapat merusak kerukunan dan tatanan budaya masyarakat Yogyakarta yang anti terhadap kekerasan dan penuh dengan toleransi.

    Struktur masyarakat majemuk yang ada di Kota Yogyakarta adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dinafikan berpotensi menimbulkan konflik dan gesekan sosial sebagaimana menurut JS Furnival bahwa masyarakat majemuk (plural society) merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih tertib sosial, komunitas atau kelompok-kelompok yang secara kultural, ekonomi dan politik terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, atau dengan kata lain merupakan suatu masyarakat di mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggotanya kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan.

    Kondisi keniscayaan ini jika tidak dikelola dengan baik oleh para pemangku kepentingan jelas akan dapat menimbulkan konflik yang dapat berbentuk kekerasan serta akan berujung pada disintegrasi sosial yang tidak hanya merugikan masyarakat Kota Yogyakarta semata namun juga dapat menimbulkan dampak bagi keutuhan NKRI,

    Berangkat dari konteks tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para nya para pemangku kepentingan di Kota Yogyakarta. Pertama, para pemangku kepentingan terutama pihak eksekutif harus memiliki persepsi dan pemahaman yang sama bahwa bentuk struktur sosial masyarakat  majemuk yang ada di Yogyakarta harus diupayakan dan diarahkan menjadi struktur sosial yang terinterseksi (intersected social structure) yakni kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat dapat menjadi wadah beraktivitas dari orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang sukubangsa, agama, ras, dan aliran. Dengan demikian  keanggotaan para anggota masyarakat dalam kelompok sosial yang ada dapat saling silang-menyilang sehingga terjadi loyalitas yang juga silang-menyilang (cross-cutting affiliation dan cross-cutting loyalities). Bentuk struktur yang terinterseksi mendorong terjadinya integrasi sosial dalam masyarakat multikultural.

    Kedua, para pemangku kepentingan perlu secara aktif melakukan upaya dan proses integrasi sosial dengan pendekatan yang berbentuk konsensus yang lebih menekankan pada dimensi budaya , dengan pendekatan konsensus, integrasi sosial dapat dicapai melalui suatu kesepakatan tentang nilai dasar (common platform) diantara komunitas, etnis, agama, aliran yang hidup di Kota Yogyakarta. ;

    Dengan melakukan dua hal tersebut di atas, para pemangku kepentingan akan memiliki kepedulian dan responsivitas yang tinggi terhadap potensi-potensi konflik yang ada di dalam masyarakat multikultural dan tidak sekedar menjadi mediator konflik apalagi hanya sekedar menjadi “pemadam kebakaran”  yang bertindak reaktif pada saat api konlfik tengah membesar seperti yang terjadi dalam beberapa kasus aksi kekerasan terhadap sebuah ormas keagamaan, pembubaran diskusi dan aksi anarksisme di beberapa sekolah yang berbasis agama di Kota Yogyakarta.  

     

    ***********************

     

     

     

     

     

    PENGUMUMAN